Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

2009-02-10


Dinar adalah mata uang emas dengan berat 4.25 gram yang biasa digunakan di zaman Nabi. Nilainya tetap/stabil tidak jatuh dimakan inflasi karena bergerak bersama dengan harga emas. Sebagai contoh menurut satu hadits (Bukhari) harga 1 ekor kambing pada zaman Nabi sekitar 1 dinar (saat ini sekitar Rp 900 ribu). Ternyata saat ini nilainya pun tidak jauh beda. Harga satu kambing sekarang juga sekitar satu dinar.

2009-02-09



Seorang teman dari kawannya sahabat bercerita kepada kami:

Suatu siang aku makan di sebuah warteg (Warung Tegal). Warung ini sering aku lewati. Biasanya aku tidak pernah tertarik pada warung yang satu ini. Warung ini terletak menyempil diantara kios-kios lain dan sangat tidak menarik penampilannya, namun entah mengapa hari itu aku merasa tertarik untuk makan di sana. Warung itu sepi sekali. Selama aku makan hanya beberapa orang saja yang datang untuk memesan makanan untuk dibawa pulang, jadi hanya aku sendiri saja yang makan di sana.

Aku memesan nasi berikut sayur tahu dan rendang ati-ampela ayam serta air dingin segelas. Ternyata makanannya cukup sedap dan air dinginnya-pun dipenuhi dengan es batu yang besar sehingga aku bisa menambahkan air putih jika kurang. Aku sangat menikmati makan siangku. Bahkan aku sempat minta tambah nasinya. Selesai makan aku menyalakan sebatang rokok. Aku berencana untuk berlama-lama menikmati rokok dan air dingin di sana.

Baru dua atau tiga hisapan rokokku, masuk seorang lelaki tua. Mungkin dia seumur denganku namun karena hidupnya susah menjadikan dia terlihat lebih tua. Dia masuk sambil berkata lirih kepada si penjual, “Ibu, tolong buatkan saya makan tiga ribu rupiah saja.” Aku tersentak, apa yang akan dia dapatkan dengan tiga ribu rupiah untuk makan pada saat sekarang ini. Segera saja aku bangun memanggil si penjual dan minta dihitung berapa yang aku makan. Delapan ribu rupiah untuk semua yang aku makan berikut air dinginnya. Aku keluarkan uang sepuluh ribu rupiah dan berkata kepada si penjual, “Ini sepuluh ribu rupiah, kembaliannya tambahkan pada pesanan Bapak ini.” Bapak tadi kaget dan langsung mengucapkan terimakasih kepadaku. Tidak hanya sekali dia mengucapkan terimakasih, tetapi berkali-kali selama aku masih mengemasi barang-barangku di atas meja. Wajahnya terlihat begitu gembira seolah-olah baru mendapatkan lotere. Dan terakhir dia berkata, ”hati-hati di jalan semoga selamat.”

Ketika aku berjalan keluar menuju kendaraanku aku berfikir, mengapa hanya dua ribu rupiah sisa kembalian yang aku berikan kepadanya; mengapa tidak sekalian saja aku bayarkan seluruh makanannya; mengapa tidak aku bayarkan juga makanan untuk keluarganya. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Dua ribu rupiah yang aku berikan kepadanya merupakan spontanitas dan ikhlas aku keluarkan. Aku tidak mengharapkan apapun darinya dengan uang dua ribu rupiah kecuali dia bisa menikmati makan siang yang lebih layak. Namun “mengapa-mengapa” yang terpikirkan timbul akibat dari ucapan terima-kasihnya dan do’anya. Aku mengharapkan ucapan terimakasihnya, aku mengharapkan imbalan dari apa yang aku keluarkan. Aku menjadi sombong karena kemampuanku, belum lagi rasa riya yang mulai menggeliat keluar. Maka segera saja aku tinggalkan tempat itu.

Sampai di situ teman dari kawannya sahabat kami berhenti bercerita. Dan mulailah kami mengomentari kisahnya, karena kami memang komentator yang baik namun buruk dalam bertindak.

Setelah mereka semua pergi, dan tinggal sendiri, saya merenungi kisah tadi. Ada satu hal, selain pelajaran ikhlas, yang saya temukan di sana. Sang Bapak dalam kisah tadi begitu mensyukuri apa yang di dapatnya, walau hanya uang sebesar dua ribu rupiah yang setara dengan dua batang rokokku. Lalu kapankah aku pernah bersyukur? Aku mendapatkan bukan hanya sepuluh kali lipat tapi bisa seratus, seribu bahkan lebih, dari apa yang didapatkan bapak tadi. Aku selalu merasa bahwa Tuhan tidak memberikan aku rejeki yang layak. Aku merasa hina di bandingkan Bapak tadi.

Ya, Tuhan-ku ampunilah aku.
Betapa aku tidak pernah mensyukuri apa yang telah engkau berikan.
Ampunilah segala prasangka yang aku tujukan kepada-Mu.
Ya, Tuhan-ku bantulah aku.
Jadikanlah aku menjadi bagian dari orang-orang yang selalu beryukur,
Seperti para Rasul-Mu.
Amien.

DIAN A.

2009-02-07

Jangan sengaja lewatkan solat. Perbuatan ini Allah tidak suka. Kalau tertidur lain cerita.

Jangan tidur selepas solat Subuh, nanti rezeki mahal (karena pagi-pagi itu membuka pintu berkat).

Jangan makan tanpa membaca BISMILLAH dan doa makan. Nanti rezeki kita dimakan syaitan.

Jangan keluar rumah tanpa niat untuk membuat kebaikan. Takut-takut kita mati dalam perjalanan.

Jangan biarkan mata liar di perjalanan. Nanti hati kita gelap diliputi dosa.

Jangan bergaul bebas ditempat kerja. Banyak buruk dari baiknya.

Jangan menangguh taubat bila berbuat dosa karena mati bisa datang tiba-tiba.

Jangan enggan untuk meminta maaf pada ibu bapa dan sesama manusia kalau memang kita bersalah.

Jangan lupa bergantung kepada ALLAH dalam setiap pekerjaan. Nanti kita sombong apabila berhasil. Kalau gagal kecewa pula.

Jangan malas untuk bersedekah. Sedekah itu memanjangkan umur dan memurahkan rezeki kita.

Jangan biasakan berbohong, kerana ia adalah ciri-ciri munafik dan menghilangkan kasih orang kepada kita.

Jangan suka menganiaya manusia atau hewan. Doa makhluk yang teraniaya cepat dimakbulkan ALLAH.

Jangan terlalu susah hati dengan urusan dunia. Akhirat itu lebih utama dan hidup di sana lebih lama dan kekal selamanya.

Jangan mempertikaikan kenapa ISLAM itu berkata JANGAN. Sebab semuanya untuk keselamatan kita.

ALLAH lebih tahu yang terbaik untuk hamba ciptaanNya.

About Me

Foto saya
Pekanbaru, Riau, Indonesia

Blogger Templates

Unordered List

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Berlangganan via email

Masukkan Alamat Email Anda:

Didukung oleh FeedBurner

JSS

Curhat

Sponsor-ku

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget